Showing posts with label bahasa. Show all posts
Showing posts with label bahasa. Show all posts

Friday, July 20, 2018

Anggota Bheddhen



Mengenal Anggota Tubuh = makennal anggota bheddhen
1.      Obuk        = rambut
2.      Oben        = rambut putih
3.      Obuk malekker     = rambut keriting
4.      Olo           = kepala
5.      Dei           = dahi
6.      Ales          = Alis
7.      Mata         = mata
8.      Kopeng    = telinga
9.      Cambang  = jambang
10.  Colo         = mulut
11.  Comek      = kumis
12.  Jhengguk  = jenggot
13.  Ghighi      = gigi
14.  Chile         = lidah
15.  Ghuse       = gusi
16.  Bibir         = bibir
17.  Elong        = hidung
18.  Bheu         = bahu
19.  Le er         = leher
20.  Dede        = dada
21.  Bhelikat    = punggung
22.  Tabuk       = perut
23.  Tengga     = pinggang
24.  Bhujhel     = pusar
25.  Tanang     = tangan
26.  Lenggen   = lengan
27.  Cengkol    = sikut
28.  Pokang     = paha
29.  Tongkeng = bokong
30.  To ot        = lutut
31.  Ketdhuk-ketdhuk = persendian antara paha betis
32.  Bettes       = betis
33.  Soko         = kaki
34.  Tongkak   = tungkai
35.  Bhuko-bhuko = mata kaki
36.  jheriji'       = jari jemari
37.  ghejhe       = jempol
38.  tonjhuk     = telunjuk
39.  jheri tenggah = jari tengah
40.  manes       = jari manis
41.  jhelincing  = jari kelingking
42.  bhurik       = anus
43.  peller        = buah dzakar
44.  palak         = kelamin laki-laki
45.  empek/poke = kelamin perempuan

A Ajher Ocak Bhebian

Bahasa Bawean memiliki karakteristik tersendiri meskipun kadang kelihatannya seperti bahasa Madura namun bila di lihat dari kosa kata dan dialektikanya memiliki perbedaan yang mencolok semisal kata "Olo: bawean" / "cetak:Madura, "toot:bawean" menjadi "To' ot:madura), cara pengucapan lebih halus atau datar sedangkan madura lebih banyak "tasydidnya" atau mental.
Di Bawean sendiri terdapat beberapa dialek yang berbeda, ini terjadi karena dipengaruhi oleh seberapa besar daerah yang menjadi tempat berlabuhnya kapal atau tempat singgah para pendatang, sedangkan menurut asal bahasanya Bawean menggunakan bahasa Jawa dari Kerajaan Majapahit dan mulai mengalami perubahan sejak Bawean di pimpin oleh raja Syeik Umar Mas'ud yang berasal dari Arosbaya Madura, namun tetap ada satu daerah Istimewah waktu itu yang diberi kebebasan untuk menggunakan bahasa asal dan kebudayaan seperti semula yaitu Desa Diponggo.
 
Walaupun kata dasarnya banyak sama dengan bahasa madura Kangean dan madura Sumenep, namun terjadi perbedaan jika dirangkai dalam bentuk kalimat yang dituturkan oleh penuturnya, perbedaannnya karena dipengaruhi oleh unsur suffix atau tambahan kata penghubung awal, maupun kata penghubung akhir, tentunya dengan logat daerah masing-masing yang khas.
Pada penutur bahasa Bawean terdapat berbagai macam dialek pada masing-masing dusun/kampong, namun begitu secara garis besar dapat dipetakan sebagai berikut:
penutur dengan kosakata
Eson/bhule = saya (terdapat pada desa Tambhek dan sekitarnya, serta Sangkapura dan sekitarnya). Ehon = saya (dituturkan di desa Komalasa/podekek/Suwari, dan sekitarnya)
 Engkong = saya (dituturkan di desa Diponggo)
Nira = saya ( dituturkan di desa Paromaan, Langaor, Candi, Pagherangan, Sumber Waru dan sekitarnya )
kae= kamu ( dituturkan di desa Paromaan, Langaor, Candi, Pagherangan, Sumber Waru dan sekitarnya )
Penno= kamu (terdapat pada desa Tambhek dan sekitarnya)
Bekna = kamu (Sangkapura dan sekitarnya)
De e = kamu (khusus Diponggo) 
inilah indahnya budaya dan bahasa Bawean meskipun memiliki perbedaan kata namun tetap saling dimengerti saat melakukan komunikasi antar warga Bawean
.................jangan lupa tetap Pelajari dan Gunakan Bahasa Ibu demi melestarikan Budaya!
....... Bersambung....

VIDEO TUTORIAL